Mereka Bilang Jadi Pendidik Anak Usia Dini Hanya Butuh Tepuk dan Menyanyi Saja

Untuk apa susah-susah kuliah di PAUD kalau pada akhirnya hanya ‘tepuk’ dan ‘menyanyi’ saja?

Sudah berulang kali saya mendengar nada sumbang itu. Oleh siapa? Hampir semua orang yang saya kenal maupun yang baru saja mengenal saya. Siapa sangka, banyak teman saya yang mengambil program studi PAUD mengatakan pernah mengalami hal yang sama. Ah, mungkinkah saat membaca ini, sejenak di pikiran Anda juga terbersit demikian? Atau mungkin malah bertanya-tanya, PAUD itu apa sih? Well, PAUD itu singkatan dari Pendidikan Anak Usia Dini, yang membahas tentang pendidikan anak sejak lahir sampai berusia delapan tahun. Oh, calon guru TK toh. Dahulu, Pendidikan Guru PAUD (PGPAUD) memang bermula dari Pendidikan Guru Taman Kanak-kanak (PGTK) dan terbilang masih ‘muda’ dibandingkan jurusan pendidikan lainnya di Indonesia. Saya sendiri masih angkatan ke 4 di program studi PGPAUD Universitas Negeri Yogyakarta dan sedang berjuang menyelesaikan studi tahun ini, inshaaAllah. Kenyataannya ya memang banyak orang yang memandang sebelah mata program studi saya, and it doesn’t surprise me … at least right now.

However, it did bother me, three years ago. Let me tell you why, and it’s going to be a long one.

Saya berasal dari sekolah menengah atas yang bisa dibilang favorit di Yogyakarta, SMAN 8 Yogyakarta alias Delayota. Saat seleksi masuk SMA, saya berada di urutan pertama, hal yang tak pernah saya duga. That thing alone set the bar so high for me, I mean, other expectations on what they think about me. I never think myself as smart as they perceived me. Salah satu faktor yang membawa saya ke posisi itu bukan karena nilai akademik murni yang ciamik, namun piagam kompetisi musik. But people wouldn’t even care about it, would they? Masih ingat betul ketika upacara penerimaan siswa baru, Kepala Sekolah sempat berkata bahwa siswa yang masuk di Delayota peringkat pertama belum tentu akan keluar pertama juga. Dalam hati saya berkata, I don’t care. Akan tetapi, saya benar-benar paham akan pandangan orang terhadap saya.

Tahun pertama SMA, saya merasa semua orang menganggap saya bisa semua mata pelajaran. They didn’t tell me directly, but I subconsciously aware. It kind of subtle language, something untold. I seem able to read people state of mind through painting and faces. Pak Hardi, guru seni lukis saya, yang menyadarkan tentang hal itu. Salah satu guru senior yang saya hormati sangat menyarankan saya untuk masuk jurusan Teknik Kimia di UGM. Kimia memang sempat menarik minat saya, tapi tidak lama. Tampaknya saya lebih tertarik dengan seni. Sejak awal memang minat saya masuk ke Delayota adalah … ekstrakurikuler Teater 10. Demi bergabung disana, saya rela melepaskan kesempatan untuk masuk SMAN 3 dan 1 Yogyakarta, yang notabene sekolah favorit #1 dan #2. Gila bukan? Namun, di Delayota pula saya menemukan bagian hidup saya, seni lukis, dan saya sama sekali tidak menyesal. Pada akhirnya, persepsi teman-teman akan saya berubah menjadi ‘cah nyeni’ alias ‘seniman’.

Tahun kedua akhir, kegalauan tentang masa depan saya memuncak. Saat itu, siswa kelas XI harus menentukan pilihan jurusan dan universitas. Saya tidak lagi menyukai kimia seperti pada tahun pertama. I despise math, a lot, because I have difficulties memorizing numbers. Kimia juga ada rumus dan hitungan kan? Paman saya bahkan menyarankan untuk masuk kedokteran UGM. Jujur, saya takut mayat apalagi saya visual-people, sekali lihat susah hilang. Saat itu, saya jadi sering bolos pelajaran, terutama matematika, dan melarikan diri ke studio lukis. In my despair, I asked my mother. She said,

“Kamu punya bakat di seni. Kamu menggambar bisa, menari juga sedikit bisa, menyanyi juga minimal bisa didengar, kamu juga aktif karawitan. Kamu tahu sendiri kan, kita enggak bisa hidup semata-mata dari seni. Kita memang perempuan, walaupun bukan kewajiban perempuan untuk mencari nafkah, setidaknya kamu harus bisa berdiri diatas kakimu sendiri. Semua kemampuan kamu itu dipakai di PAUD, kenapa tidak dicoba? Lagipula, kesempatan kamu masih banyak karena lulusan PAUD masih sedikit.”

“Tapi bu, aku nggak mau jadi guru TK.”

“Kamu nggak harus jadi guru TK. Kamu bisa jadi dosen atau yang lain.”

At first, I didn’t buy it. I tought for so long. Memang, sejak tahun kedua saya tertarik dengan psikologi anak, terutama gambaran anak. Akan tetapi, hal itu masih berupa subconscious. On the other hand, my father said,

“Kamu itu tipe otodidak, intuitif. Kalau kamu belajar seni secara akademis, justru hasilnya jelek. Kamu nggak paham apa itu balance, point of interest, atau istilah teknis lain. Kamu kalau diarahkan malah mandeg [berhenti]. Takutnya, kamu malah kehilangan ciri khas kamu kalau  kamu masuk sekolah seni [ISI Yogyakarta].”

Pada akhirnya, saya berpikir, okay let’s try this one, at least I don’t have to do math. Saat itu, saya merasa nyaman dan menjalani tahun terakhir saya dengan santai. Saya yakin lolos SNMPTN undangan, sehingga saya hanya perlu mempersiapkan diri untuk Ujian Nasional. Bukan saya besar kepala, tapi saat saya berjuang dengan menyadari kelemahan dan kelebihan saya sendiri, saya merasa mantap. Saya percaya rencana Allah. Waktu berlalu, semua terjadi seperti yang saya duga. Alhamdulillah saya lolos SNMPTN undangan dan nilai UN saya tak terlalu buruk. Pada titik itu, saya sudah tidak peduli dengan ranking. Orang tua juga mendukung pilihan saya. Hal yang tidak saya sadari adalah ekspektasi orang lain terhadap saya.

Saat itu, saya berpamitan dengan guru-guru, bersamaan dengan pengambilan ijazah. Saya bersalaman dengan guru yang selama ini mengharapkan saya masuk UGM. Betapa terkejutnya beliau ketika tahu saya tidak memilih UGM dan justru masuk ke PAUD, jurusan yang dianggap ‘asing’ dan ‘tidak keren’, apalagi untuk ukuran lulusan Delayota. Terlebih lagi dengan track record saya di awal masuk Delayota. Saya bisa melihat betapa kecewanya beliau, bahkan beliau seperti tidak mau memandang mata saya lagi. Tidak hanya beliau, hampir semua guru memberikan pandangan yang sama. Mungkin saya dianggap produk gagal. Maklum, sudah menjadi semacam tradisi jika lulusan Delayota banyak yang masuk UGM dan universitas terkemuka lain dengan jurusan bergengsi tinggi. Saya tidak apriori terhadap UGM atau universitas lain. Saya sangat paham itu resiko pilihan saya, walaupun dalam hati saya merasa terluka. Hanya satu guru yang benar-benar mendukung pilihan saya, tanpa tanda petik. Saya sangat ingat perkataan beliau,

“InshaaAllah jalanmu disitu. Kamu tidak boleh berhenti hanya jadi guru TK.”

Beberapa teman dekat yang sudah mengenal karakter saya juga mendukung pilihan saya. Selebihnya, nada-nada sumbang yang lebih banyak saya dengar.

“Kamu yakin masuk PAUD? Sayang banget eh.”

Ngapain kamu susah-susah di SMA favorit kalau akhirnya cuma ‘keplok’ [tepuk] sama nyanyi-nyanyi doang?”

Lah nanti malah nggak bisa bedain dong mana guru TK mana muridnya? Kan kamu badannya kecil.”

“Kalau aku jadi kamu, bla-bla-bla.”

“Loh mbak alumni Delayota? Kok nggak  masuk UGM apa ITB?” Saya jawab, “Disana enggak ada jurusan PAUD [senyum kecut].”

Buat apa kuliah di PAUD? Kalau hanya ‘keplok’ sama nyanyi semua orang juga bisa.”

“TK itu kan nggak penting, yang penting masuk SD. Toh, nggak bakal ditanya juga ijazah TK.”

Disitu kadang saya merasa sedih. Betapa pendidikan sudah bersinonim dengan ijazah. Tanpa ijazah, artinya tidak penting. Semakin lupa bahwa manusia bisa berbicara dan membaca, menelurkan teori dan inovasi sampai sehebat apapun itu diawali dengan ‘keplok’ sama nyanyi-nyanyi! Sungguh arogan. Banyak yang lupa, atau mungkin tidak tahu, jika ketakutan di masa dewasa hampir bisa dipastikan bermuara dari ketakutan masa kanak-kanak. Berapa dari Anda yang tahu jika kebanyakan anak kelas 3 atau 4 SD yang prestasinya tiba-tiba menurun berasal dari tuntutan untuk membaca dan menulis disaat secara fisik dan psikologis belum matang? Lalu fenomena sekarang bayi sudah dilenakan dengan tablet dan mainan elektronik lain, padahal secara neurologis [berkaitan dengan otak] anak baru siap dengan mainan elektronik ketika berusia empat tahun? Orang dewasa begitu mudahnya melabel anak ‘nakal’, padahal yang terjadi sebenarnya adalah orang dewasa yang tidak berusaha ‘mendengarkan’ anak dan hanya mau didengarkan oleh anak? Lalu banyak melarang dengan kata ‘jangan’, padahal anak belum bisa berpikir ‘kebalikan’ karena cara berpikir anak masih satu arah (irreversible)! Semua hal itu hanya dipelajari di PAUD, baik secara teoritis maupun praktis. So, masih berpikir PAUD sekedar ‘keplok’ dan nyanyi-nyanyi?

Namun, Allah memang pandai membolak-balik hati hambanya. Suatu ketika, pilihan hati saya diuji. Tepatnya tahun kedua saya di PGPAUD, kakak sepupu saya menyarankan saya mengambil beasiswa art school di Australia. Kebetulan dia tinggal di Australia. Saya sempat sedikit goyah karena tawaran yang sangat menggiurkan. Setidaknya saya ada saudara di Australia, pikir saya. Akan tetapi, saya kembali teringat alasan-alasan apa yang membawa saya sampai disini. Akhirnya, saya putuskan untuk tinggal dan menyelesaikan apa yang sudah saya awali. Saya ikhlaskan kesempatan itu. Siapa sangka, rencana Allah memang lebih indah dan tak terduga. Saya bisa bekerja sama dengan banyak orang yang saya hormati, bertemu teman-teman super keren, masuk koran [bukan buron ya], bahkan diberi kesempatan berangkat ke luar negeri. Disisi lain, kakak sepupu saya pindah ke Hongkong beberapa bulan kemudian. Setahun berikutnya, Nenek yang paling saya cintai meninggal. Bisa dibayangkan betapa menyesalnya jika saya memutuskan pergi.

Semakin saya mendalami PAUD, semakin saya sadar betapa kompleks dan berat tanggung jawab sebagai pendidik AUD. Kami bertanggung jawab akan masa depan seseorang. Kami berada pada masa pertumbuhan dan perkembangan manusia yang paling riskan, salah langkah satu saja efeknya akan bersifat permanen. Kami filusuf, kami praktisi. Kami seniman, kami psikolog. Kami dokter, kami teknisi. Tentu untuk belajar dan menjalaninya tidak semudah tepuk-tepuk dan nyanyi-nyanyi saja!

Advertisements

5 thoughts on “Mereka Bilang Jadi Pendidik Anak Usia Dini Hanya Butuh Tepuk dan Menyanyi Saja

  1. Nice! Keren, inspiratif, sukaaaaaakk! 😁
    Semoga sukses ya, ikut seneng atas passionmu. Anak didikmu pasti hebat2 nih.. 😀

    1. Terima kasiiih :))) Amin, sukses buat kakak juga yaaa. Hihi amin, amin. Semoga makin banyak juga yang tertarik buat belajar tentang aud. Terima kasih sudah mampir :3

    1. Kotanya dimana kah? Aamin, semoga bisa terwujud 🙂 coba cari info beasiswa, biasanya semakin jarang jurusannya, makin besar kesempatan untuk lolos :)) good luck!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s