Bagaimana menyikapi sebuah kompetisi?

[This entry actually posted on my Facebook account at January 20th, 2015. I repost it here with several changes.]

Bisa dibilang, hidup kita enggak lepas dari kompetisi. Entah itu dalam bentuk lomba, ngerjain tugas, bahkan dalam hal pakaian; yang namanya manusia emang enggak bisa lepas dari persaingan. Nah, persaingan atau kompetisi mau nggak mau itu pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Orang yang sering menang atau dimenangkan secara langsung maupun enggak bakal cenderung jumawa alias sombong. Sebaliknya, yang sering kalah cenderung makin rendah diri.

Akan tetapi, semua tergantung cara pandang kita. Kalau kita hanya fokus pada bagaimana untuk “menang”, ya hanya ada dua pilihan; menang senang atau kalah kecewa. Kita akan mengabaikan hal-hal lain yang sebenarnya lebih bermanfaat daripada kemenangan itu sendiri. Menang disini dalam arti luas, sesuai konteks kompetisi apa yang dijalani. Jika kita memandang kompetisi sebagai proses yang mendewasakan, kita akan menemukan bahwa ada banyak hal untuk dipelajari. Saat menang bukanlah suatu target utama, jika kemenangan itu didapat akan terasa lebih berarti. Apabila kalah pun, akan merasa bahagia karena memenangkan hal yang lain, biasanya dipahami sebagai pengalaman. Kompetisi itu macam-macam, contoh paling sederhana seperti dalam mengerjakan tugas. Biasanya kita berkompetisi siapa yang paling cepat selesai, bagaimana nilainya, dll. Kalo soal pakaian ya pakaian merk apa, mana yang lebih mahal, dst dst dst [udah banyak contohnya di tayangan entertainment tuh].

Anyway, itu tadi sudut pandang yang enggak terlalu menyukai persaingan atau kompetisi. Useless. Apasih senangnya bisa mengalahkan orang lain? Eksistensi diri? Ya, tapi sesaat. Setiap orang punya ritme hidup masing-masing, beserta kelebihan dan kelemahannya. Kompetisi itu sejatinya adalah persaingan dengan diri sendiri, sejauh mana kita bisa menahan tekanan, mengatur strategi dan emosi. Jadi jika kita curang dalam sebuah kompetisi, bukankah artinya kita mencurangi diri sendiri?

Terus ada komentar dari Mas Erza, kakak kelasku dulu di SMA. He said:

Yang terpenting menurutku adalah bagaimana kita dapat melaksanakan suatu tugas atau suatu kewajiban dengan sebaik-baiknya. Kalau fokusnya semacam ini, kita nggak takut berbagi cerita, nggak takut berbagi pengalaman, nggak ada rasa “takut dikalahkan”. Yang ada adalah “takut kalau kemampuan kita tidak berguna bagi orang-orang di sekitar kita“.

Well said.

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s