Persona

Saat ini, logika sedang terbuang. Aku yang berkuasa.

Kemarin Kamis, mood berasa sangat berantakan dan nggak pengen nggambar sama sekali. Padahal ada job gambar yang harus diselesaikan hari itu juga, tapi nggak berani megang pensil ataupun kertas. Sampai detik ini belum juga berproses. Biasanya kalo dipaksa malah hasilnya jelek. Padahal yang bakalan baca anak-anak. I’m scared. So, mending gak pulang dan main bareng temen-temen sampai sore. Saat itu, secara iseng tanya aja ke temen-temen, “Eh, ada yang mau tulisannya takbaca nggak?”

Nggak disangka, ketiga temenku mau. Mulailah baca personality mereka lewat tulisan tangan. Ya, baca. Bukan meramal. Gimana caranya? Oke, aku nggak bisa bilang ini bakat. Nggak merasa pernah belajar juga, cuma pernah baca saat blogwalking. Bukan anak psikologi juga. Sadar bisa “baca” juga baru awal masuk kuliah. Semasa SMA, aku nggak pernah sadar tentang ini. Mungkin pada nyebutnya intuisi kali ya? Entahlah. Anehnya, selama ini belum ada satupun yang meleset. Hm …

Sebenernya yang mau takbaca cuma 3 orang, tapi akhirnya malah jadi 8 orang. Eww. Satu diantaranya aku gak pernah kenal, sekarang pun udah lupa namanya siapa. Inget wajahnya sih. Sampai pulang, emosiku masih stabil. Tapi saat udah berbaring, udah, semuanya blank. Nggak pengen ngapa-ngapain. Chaos. Satu-satunya pelarian adalah tidur, tapi juga nggak tenang. Berkali-kali bangun karena hal yang gakjelas. Bener-bener chaos. Hari Jumat pun lewat dengan cepat.

Kenapa bisa gitu? Ada hal yang secara otomatis dilakukan saat baca persona orang lain, yaitu buang persona diri sendiri. Seberapa deket sama orang yang kamu baca, mau hubunganmu baik apa enggak, kenal atau enggak, itu nggak boleh ada saat kamu baca tulisan mereka. The moment people become my clients, they are complete stranger. Apa yang dihadapanku adalah truth, nggak boleh ditambah ataupun dikurangi. In that moment, I lose myself.

Aku selalu minta orang yang dibaca untuk dideketku, walaupun sebenarnya tanpa mereka didekatku juga bisa. Kenapa? Karena enggak setiap orang yang dibaca siap sama kenyataan. Ada beberapa hal yang mereka tahu tapi sengaja ditutupi, atau mereka nggak tau sama sekali. Apa yang tergambar di wajah mereka, itu petunjuk. Banyak atau enggaknya, mau lanjut atau enggak, itu tergantung reaksi mereka. Baca persona enggak segampang baca buku, walaupun yang dibaca sama-sama tulisan. Tulisan itu berubah seiring proses kehidupan. Saat aku interpretasi tulisan mereka, sebenarnya saat itu aku sedang masuk ke dalam diri mereka. Nggak ada lagi Yosi, Chimi, ataupun Nisa. Yang ada hanya aku.

Setelah aku baca, saat aku kembali jadi personaku lagi, biasanya aku nggak akan inget detail apa yang diomongin tadi. Blank. Cuma kasus-kasus tertentu aja yang inget, secara garis besar, itupun paut beberapa hari. Kecuali aku baca lagi, hehe. Nah mungkin, kemarin itu terlalu banyak dan sering, setelah lama hiatus hampir setengah tahun. Efeknya, begitulah, justru bawah sadarku kacau. Seharian cuma pengen tidur dan tidur. Ditambah lagi 2 hari sehari sebelumnya aku gak tidur. Seharian kepala bener-bener sakit, nggak niat makan, jalan sempoyongan. Kalo cuma gara-gara gak tidur, enggak akan segitunya. Soalnya pernah dan nggak separah itu. Yang ini spesial lah.  Jadi kaya badmood sama semua orang, hiks.

Terus kalo emang efeknya gitu, kenapa masih mau baca persona orang? Pertama, karena sebelumnya aku nggak pernah ngalamin sampe sebegininya. Mungkin pas itu fisiknya enggak bermasalah, jadi enggak ngefek. Buat pelajaran ajalah. Kedua, aku nglakuin itu buat support mereka, biar mereka tau seperti apa diri mereka selama ini. Kaya yang udah aku bilang diatas, terkadang orang cukup tahu siapa dia tapi enggak mau tahu. Kalau orang lain yang bilang baru percaya. Ada juga yang bener-bener gak tahu dan bener-bener tahu. Apa yang aku katakan sebenernya cuma keyword. Setelah keyword itu match sama persona mereka, pintu itu bakalan kebuka dan aku bisa lihat kecenderungannya. Biasanya saat itu, mereka akan cerita, interpretasi apa yang aku bilang tadi sama apa yang sebenarnya mereka rasakan. Bukan berarti mereka harus curhat, itu tergantung orangnya. Aku nyebutnya proses matching, disini persepsiku dan persepsi mereka bertemu, supaya enggak ada miskomunikasi. Itulah kenapa aku lebih suka orang yang takbaca disekitarku, lebih bagus lagi kalo dihadapanku. Pemikiranku gini, orang akan bisa lebih maju kalau mereka tahu kekuatan dan kelemahan diri. Nah, disitulah aku berusaha memotivasi orang lain dengan memberi tahu kekuatan dan kelemahan mereka. Bagaimana kelemahan itu bukan sebagai hambatan buat maju. Walaupun praktiknya aku nggak pernah bilang secara tegas itu kekuatan apa kelemahan, biasanya yang menilai orang itu sendiri. Kalau kita aja enggak paham siapa diri kita, gimana orang lain bisa memahami kita?

Gimana dengan personaku sendiri? Labirin. Interpretasikan sendiri deh ya. Mungkin setelah baca ini, ada yang berpikir aku ga waras atau gimana. Well, terserah anda ♥

Myria

Advertisements

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s