Boneka-Boneka Pendidikan

Aku ini boneka.

Boneka tangan yang terlantar. Taliku putus. Aku tak bisa bergerak lebih jauh lagi.

Hahahaaaaaa!! Taliku putus! Hahahaa!! Kau … kau sengaja memutuskannya bukan? Haa!! Haa … haaa … huuuuu …

Kau, tangan yang tak terlihat, kaulah yang mengendalikanku. Dengan tali-tali ini kau permainkanku sesuka hatimu. Tinggal jentikkan saja, aku akan menurutimu. Selama kau puas, aku tetap jadi kesukaanmu. Kalau kau bosan? Hahaaa beginilah, tak berdaya.

***

Aku ini boneka.

Mari kuceritakan asal-usulku. Mumpung kau masih disini menatapku.

Aku berasal dari kayu, kayu terbaik yang pernah ada. Selama ini aku bermimpi menjadi sesuatu yang akan digunakan manusia. Aku ingin berguna. Aku dimasukkan ke pabrik yang besar, kalau aku tidak salah namanya SEKOLAH. Selama bertahun-tahun aku diolah dan dibentuk. Ternyata aku dibentuk menjadi sebuah boneka. Boneka kayu. Aku sangat menyukainya, aku lebih cantik daripada kayu-kayu yang lain. Yeeey! Aku lebih cantik!! Dengan bangga kulihat diriku yang indah, mulus tak ada cela sedikitpun. Kulihat bajuku yang lembut dan menawan. Ahahaaa! Aku bahagia sekali …

Sampai kemudian kusadari, ternyata semua yang ada disini sama sepertiku. SAMA!! Aku kalut. Aku tak pernah berpikir akan berakhir seperti ini. Lalu … lalu apa yang bisa kubanggakan sekarang? Aku terdiam. Pikiranku kacau, berlari kesana kemari.

Sampai kemudian seseorang mengambilku. Aha! Aku dipilih! Aku kembali bahagia. Ya ..  yaa .. akulah yang tercantik diantara boneka yang lainnya, hihihi. Orang itu memeriksa tanganku, kakiku, badanku, wajahku, taliku, semua tanpa terkecuali. Orang itu lalu menyerahkan aku kepada orang lain.

Aku tidak tahu siapa. Aneh, aku tak bisa melihat siapa-siapa, tapi aku bisa  merasakan kalau dia memainkanku. Lewat tali-taliku, aku merasakan kendali tangan itu. Aku tergeletak di lantai. Sedetik kemudian tangan itu menjentik, dengan lihainya menggerakkan tubuhku kesana kemari. Aku takut, tapi lama-kelamaan aku menyukainya. Seakan-akan tubuh ini bergerak sesuai perintahku sendiri. Untuk sesaat aku merasa bebas. Bebas … BEBAS!! Aku tertawa dan mengkhayal, tenggelam dalam fantasi. Sampai akhirnya ….

BRUKK!!

Aww!!

Tanpa sengaja aku menabrak sebuah meja. Mungkin bagimu meja terlihat kecil, tapi bagiku meja adalah sebuah dinding tinggi yang mustahil aku naiki. Aku mengaduh kesakitan. Saat aku sadar ternyata di meja itu ada sebuah paku yang mencuat dan merobek bajuku. Hyaaaaaaaaah!!! Aku panik. Panik. Aku tak bisa berpikir apa-apa. Kepanikan menguasai kepalaku.

Aaaaaah .. ha ha haa! Aku terbahak bagai kesetanan. Tidak apa-apa, hanya gaunku yang sobek. Aku yakin orang-orang itu akan menggantinya. Tapi … Gawat, kakiku tidak bisa digerakkan!!

“Hey, tampaknya kaki boneka ini cacat. Lihat, ada goresan besar di lututnya. Haaaah, kalau begini berarti boneka ini tidak bisa dijual lagi” si pemilik tangan bergumam. Suaranya menyiratkan kekecewaan bercampur kebengisan.

“Aaahm maaf  Tuan, tapi bukannya tadi Tuan sendiri yang membuat boneka ini tergores?” Orang itu bicara dengan nada bergetar. Tampaknya ia ketakutan.

“APA?! Jadi kau mau bilang ini semua salahku, ha?!! Ini karena kau tidak becus! Sudah kubilang kalau berikan aku yang terbaik!! Paham kan kamu?!! Sudah, ganti ganti. Bawakan aku yang lainnya.”

“I … iya Tuan. Tttunggu sebentar”

“Haaash … Boneka tak berguna!”

PRAKKK!!

Dengan marah tangan itu membantingku. Tali-taliku diguntingnya.

Jangaaan!!!! Haa .. Huaaaa!! Aku berteriak kesetanan. Haa haa .. hahahahaha!!!! Tapi percuma aku berteriak, toh mereka tidak bisa mendengarku kan … hahaaha .. haa .. haaaaa!!!

“Assh .. sayang sekali. Huff .. sebaiknya kuletakkan disini saja. Barangkali ada yang mau mengambilnya”

Orang itu menaruhku disini. Dibawah lampu jalanan kota yang mulai redup dan berdebu, disamping bak sampah pabrik, di malam hari yang basah karena hujan ini

***

Aku ini boneka.

Hei kau, kau tidak akan mengerti bukan?

Dalam hati aku menangis. Menangis sejadi-jadinya.

==================================================

“Waa boneka ini cantik sekali. Sayang kakinya rusak. Hmm … mungkin aku bisa memperbaikinya. Sebaiknya kubawa pulang saja, akan kuhadiahkan ke Lacie di ulang tahunnya besok”

Dengan wajah berseri-seri, pria muda itu mengambil si boneka kayu dan bergegas melangkah di jalanan kota tua yang sepi.

==TAMAT==

Advertisements

8 thoughts on “Boneka-Boneka Pendidikan

    1. Memang 🙂
      Maaf sebelumnya, saya disini tidak bermaksud menyamaratakan sesuatu hal. Benar memang semuanya relatif, isi dari cerita inipun relatif sesuai pendapat yang membaca.
      Terima kasih atas masukannya 😀

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s