Mimpi

Semua orang pasti punya mimpi .. Aaah bukan “pasti” tapi “harus”. Tanpa mimpi, seperti bepergian tanpa tujuan.
Aku juga punya mimpi. Mimpi yang bisa dibilang kecil, bisa juga dibilang besar. Mimpiku bukan untuk pergi ke Bulan atau menjelajahi dunia, tapi mimpiku adalah mimpi yang memberi jalan pada mimpi-mimpi yang lain untuk menjadi nyata.

Sejak kecil, mimpiku adalah menjadi seorang guru. Impian yang menjelma menjadi sebuah cita-cita. Saat aku duduk di taman kanak-kanak, ada seorang guru yang bertanya padaku,
“Mengapa kamu cuma ingin menjadi guru? Sedangkan teman-temanmu yang lain ingin menjadi dokter, insinyur dan astronot ? “

Sebagai anak kecil yang belum tahu apa-apa, tentunya aku merasa bingung. Shock.
Memoriku tentang masa tk memang sudah blur, tapi beberapa keping memori itu masih sering mondar-mandir di pikiranku. Aku tidak ingat wajah guru yang bertanya padaku itu. Mungkin saja saat itu aku bertanya dalam hati, apa salahnya menjadi seorang guru?
Sekarang ini, dengan pengetahuanku yang sedikit tentang kehidupan guru, aku mulai mengerti. Gaji guru bisa dibilang banyak, tapi bisa dikatakan sedikit. Banyak hanya dalam struk gaji saja. Kenyataannya dengan gaji yang sedemikian rupa belum tentu hidupnya terjamin.

Sejak saat itu, aku tak pernah mengungkapkannya lagi. Kalau ditanya aku lebih memilih tidak menjawab atau menjawab sekenanya. Bukan berarti cita-citaku untuk menjadi guru padam. Aku masih menginginkannya. Syukurlah, sekarang aku sudah di jalan yang benar, jalan untuk menjadi seorang guru.

Naah, mimpiku tidak berhenti sampai disitu. Aku tidak mau sekedar menjadi guru yang mengajar lalu menerima gaji. Terlalu simple, terlalu abstrak dan terlalu naif.
Aku ingin menjadi mahaguru. Seorang dosen.
Mengapa?
Dalam pandanganku, seorang dosen memiliki cakupan yang lebih luas daripada seorang guru.
Aku ingin mengubah
Apa yang diubah?
Sebuah pandangan
Pandangan siapa?
Masyarakat awam
Tentang apa?
Tentang siapa kita. Siapa diri kita.

Seklumit cerita tentang lingkungan sekitarku. Aku tinggal di sebuah wilayah yang bisa dibilang mayoritas warganya dibawah rata-rata. Ada suatu pandangan di sini yang membuatku tidak nyaman.
Pandangan “Kowe anake sapa”, artinya kamu anak siapa.
Di tempat ini, seseorang dilihat karena siapa leluhurnya, siapa orang tuanya dan hartanya.
Bukan karena apa yang orang itu bisa lakukan.
Yaah, memang ini adalah sebuah budaya. Budaya masyarakat Jawa lama, dimana ndara akan dipuja apapun yang dilakukannya, sedangkan abdi selamanya mengabdi.
Aku ingin mengubahnya, sedikit.
Pandangan “kowe anake sapa” ingin ku ubah menjadi “kowe iku kowe”, artinya kamu adalah kamu.
Bukan perkara mudah, memang.
Ingin kubuktikan bahwa kalau aku bisa, kamu juga bisa.
Aku ingin menjadi motivasi mereka untuk berpikir maju.
Dengan menjadi seorang dosen, aku rasa aku bisa menciptakan perubahan itu.

Selain itu, kata orang gaji seorang dosen lebih besar dari guru. Tidak tahu benar atau tidak, tetapi kalau itu benar akan sangat menyenangkan. Jangan salah dulu. Aku punya alasan.
Aku ingin membuat suatu tempat dimana seni bisa ditumpahkan dengan bebas.
Khususnya, seni budaya.
Dimana anak-anak akan diajarkan bermain mainan tradisional.
Dimana mereka bisa belajar tarian tradisional.
Dimana mereka bisa bermain gamelan sejak kecil.
Dimana melukis itu bebas.
Dimana mereka akan kukenalkan bahwa
seni bukan milik seseorang saja, namun semua orang berhak menikmati seni.

Idealis ?
Ya
Impossible ?
Tidak
Bisa diwujudkan ?
InsyaAllah.
Aku punya Allah SWT yang selalu mengawasi.
Semoga mimpiku, cita-citaku dan niat baikku didengar dan dikabulkan oleh-Nya.
Amin

Advertisements

2 thoughts on “Mimpi

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s